KARYA
ILMIAH
BUDIDAYA
JAMUR KANCING DI KABUPATEN REMBANG
DI
SUSUN OLEH :
Nama
= M. Zayyanar Ridho
NIM
= 13.11.7025
TEKNIK INFORMATIKA
STIMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2014
ABSTRAK
Dewasa
ini banyak sekali orang yang mulai menyadari akan pentingnya mengonsumsi
sayuran, dan gaya hidup vegetarian sudah menjadi salah satu gaya hidup yang
sedang tren dalam masyarakat. salah satu
dari banyak sayuran yang sedang digandrungi masyarakat adalah jamur, wajar saja
karena jamur banyak mengandung unsur-unsur yang di butuhkan oleh tubuh, antara
lain jamur kancing yang segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral,
seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang
sama dengan 20 kalori, dengan fakta tersebut
peluang untuk meraih kesuksesan dalam bidang budidaya jamur ini sangatalah
terbuka lebar. Dalam karya tulis ilmiah ini, penulis melakukan riset dengan
cara mempelajari artikel yang ada di internet,
dan didalam artikel ini akan di jelaskan zat-zat apa saja yang terkandung dalam
jamur kancing, cara membudidayakan jamur kancing, kelebihan dan kekurangan
pembudidayaan jamur kancing, serta cara memilah jamur yang layak konsumsi dan
tidak layak konsumsi.
BAB
I
PENDAHULUAN
Sejak tahun 1991 hingga akhir tahun
2003, jamur tiram menjadi komoditas nomor dua yang di produksi di dunia.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa jamur tiram lebih digemari di banding jamur
lain seperti jamur shitake dan jamur merang yang sebelumnya (sejak 1986)
menempati peringkat kedua. sedangkan peringkat pertama dari daftar produksi
jamur tersebut masih ditempati oleh jamur kancing (jamur champignon) (Gunawan
dalam Novita, 2004). Budidaya jamur tiram mencapai masa-masa paling popular
pada tahun 2001-2002. Antara tahun-tahun terseut, jamur tiram di wilayah
rembang relative cukup banyak di usahakan oleh produsen local, jamur memliki
rasa yang enak sehingga banyak orang
yang suka mengkonsumsi jamur. Produksi
jamur Indonesia selain di jual dalam negeri produksi jamur Indonesia juga di
ekspor ke luar negeri tetapi jamur yang di ekspor dalam keadaan segar belum di
olah, maka jamur memliki prospek agribisnis yang baik jika di kembangkan dan di
budidayakan dengan serius.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Sejarah dan perkembangan tempe
Jamur kancing
atau champignon ini kabarnya telah dibudidayakan masyarakat sejak abad ke-17 di
Perancis. Rasanya yang nikmat seperti daging menjadikan jamur kancing ini
digemari banyak konsumen dan dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Saat ini tidak
hanya industri-industri besar saja yang tertarik membudidayakan jamur kancing,
banyak juga pelaku industri rumahan yang mulai membudidayakan jamur kancing
dengan skala kecil.
2.
Budidaya jamur kancing
a.
Persiapan bibit
Dikarenakan saya menjalankan bisnis budidaya jamur skala
kecil, maka saya memilih bibit jamur F3
yang dapat langsung ditebar pada media tanam dan dibudidayakan hingga masa
panen tiba.
b.
Teknik Budidaya Jamur
Pada umumnya teknik budidaya jamur kancing memiliki tahapan yang
hampir sama dengan cara budidaya jamur merang. Tahapan-tahapan tersebut antara lain sebagai berikut
:
1. Tahapan pertama yang perlu dilakukan adalah
menyiapkan media tanam. Untuk pembudidayaan jamur kancing, media tanam yang
digunakan terbuat dari campuran jerami padi (100%), kapur pertanian (2,5%),
bekatul (3%), dan ditambahkan urea (9%), ZA (1%), dan TSP (1,2%).
2. Tahapan kedua yaitu proses pengomposan. Caranya
dengan memotong jerami padi dengan ukuran 10-15 cm, dicuci hingga bersih dan
ditiriskan sampai kelembapannya 65%. Selanjutnya tumpuk jerami dengan ukuran
10-15 cm dan tambahkan media lain berupa bekatul dan kapur diatasnya. Susun lapisan
media tersebut berselang-seling antara jerami padi dengan campuran bekatul dan
kapur. Pada hari berikutnya lakukan pembalikan, agar campuran media merata dan
tambahkan urea sebanyak 0,9% (bila kurang lembab bisa ditambahkan air). Pada
hari ke enam media ditambahkan dengan ZA 1%, dan diaduk-aduk agar semuanya
merata. Sedangkan pada hari ke sepuluh, tambahkan TSP sebanyak 1,2% lalu
aduk-aduk dan diamkan selama 12-17 hari.
3. Selanjutnya adalah tahapan sterilisasi media
tanam. Proses sterilisasi dilakukan dengan cara meletakan media tanam (yang
telah dikompos) secara merata di atas rak-rak tanam yang disiapkan di ruang
kumbung jamur, dengan ketebalan media tanam sekitar 15-20 cm. Kemudian alirkan
uap panas dari perebusan air di pembangkit uap hingga suhu ruang kumbung
mencapai 60°-65°C, pertahankan suhu tersebut selama 12 jam. Apabila suhunya
telah mencapai 65°-75°C maka bukalah ventilasi ruangan agar suhunya kembali
turun menjadi 40°-45°C. Usahakan untuk menjaga kestabilan suhu di ruang kumbung
pada kisaran 40°-45°C selama kurang lebih 70 jam.
4. Tahapan berikutnya yakni penanaman bibit jamur.
Setelah suhu ruangan turun menjadi 32°C, maka bibit jamur kancing sudah bisa
ditanam. Untuk rak budidaya jamur dengan ukuran 3 m x 1 m, biasanya dibutuhkan
sekitar 10-14 botol bibit jamur dengan isi 220 cc. Untuk tahapan ini dibutuhkan
suhu ruangan ideal berkisar 28,8°-30° C pada daerah dataran tinggi, dan suhu
24,4°-26,6° C pada dataran rendah. Dengan tingkat kelembapan mencapai 90-100%
maka bibit jamur kancing akan menunjukan pertumbuhan miseliumnya pada usia
12-14 hari.
5. Proses selanjutnya yaitu casing atau pelapisan
tanah setebal 3-5 cm di atas media tanam yang telah ditumbuhi miselium. Tanah
yang digunakan sebagai casing harus tanah cokelat serta berpori, selain itu pH
tanah sekitar 6,2-8, dan yang paling penting terbebas dari hama ataupun
penyakit. Sebelum tanah digunakan, sterilisasikan terlebih dahulu dengan uap
panas pada suhu 70°C selama 2-4 jam dengan ditambahkan 2 liter formalin
sebanyak 40% per m3 tanah.
6. Setelah 9-14 hari setelah masa casing dilakukan,
biasanya tubuh buah mulai muncul. Untuk itu, bukalah ventilasi pada rumah
kumbung jamur agar proses pertumbuhan jamur kancing bisa lebih cepat (biasanya
tiga hari kemudian jamur sudah bisa dipanen).
3.
Manfaat
dan Kandungan Gizi Tempe
Jamur kancing dijual dalam bentuk segar atau kalengan, biasanya
digunakan dalam berbagai masakan Barat seperti omelet, pizza, kaserol, gratin, danselada. Jamur kancing memiliki aroma unik, sebagian
orang ada yang menyebutnya sedikit manis atau seperti "daging". Jamur
kancing segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral,
seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang
sama dengan 20 kalori. Jamur kancing dimasak utuh atau dipotong-potong
lebih dulu. Jamur kancing cepat berubah warna menjadi kecoklatan dan hilang
aromanya setelah dipotong dan dibiarkan di udara terbuka. Jamur kancing segar
sebaiknya cepat dimasak selagi masih belum berubah warna.
4.
Kelebihan bisnis jamur kancing
Jamur kancing sudah dikenal masyarakat luas sejak ribuan tahun yang
lalu, hal ini tentu memudahkan Anda untuk memasarkan hasil panen jamur tersebut
kepada khalayak ramai. Bahkan sekarang ini jamur kancing telah dikonsumsi
masyarakat di berbagai negara, baik sebagai bahan pangan maupun bahan obat.
Sehingga tidak heran bila saat ini jamur kancing menjadi salah satu jenis jamur
konsumsi yang paling banyak dibudiyakan masyarakat, sebab selain permintaan
pasarnya cukup besar, harga jual jamur shiitake juga masih tergolong tinggi.
5.
Kekurangan bisnis jamur kancing
Pada dasarnya menjalankan bisnis budidaya jamur dengan media kompos
memang sedikit lebih sulit jika dibandingkan dengan cara budidaya jamur
menggunakan media baglog. Karenanya dibutuhkan proses sterilisasi yang sempurna
serta ketekunan dan ketelitian dari para pelakunya. Hal ini penting untuk
menghindarkan bisnis jamur Anda dari serangan hama maupun penyakit yang
dimungkinkan menghambat pertumbuhan jamur kancing.
BAB III
Penutup
1. Kesimpulan
jamur dapat diperhitungkan
sebagai sumber makanan yang baik gizinya karena jamur kancing segar bebas
lemak, bebas sodium, serta kaya
vitamin dan mineral, seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang
sama dengan 20 kalori.
Ciri-ciri jamur yang tidak
layak di konsumsi :
a. memiliki warna yang mencolok
jamur yang berbahaya umumnya memiliki warna
yang mencolok, seperti merah, hijau, biru, hitam dan sebagainya.
b. Mengandung senyawa sulfide
c. Memiliki cincin pada pangkal batangnya.
d. Meninggalkan bekas saat di potong
e. Menghasilkan bau yang menusuk hidung.
2. Saran
Dalam membudidayakan jamur kancing,
yang perlu Anda perhatikan adalah pertumbuhan tubuh buah jamur yang tidak bisa
serempak. Jadi, proses pemanenan harus dilakukan secara teliti dan hati-hati
agar tidak merusak jamur kancing yang masih kecil. Disamping itu, sisa batang
jamur yang telah dipanen juga harus dibersihkan agar tidak terjadi pembusukan
yang dapat mengundang hama atau penyakit jamur lainnya yang merugikan tanaman
jamur.
Daftar pustaka
http://kotanimura-indonesia.blogspot.com/2012/09/prospek-jamur-di-indonesia.html
http://berbisnisjamur.com/budidaya-jamur-kancing/
http://ciricara.com/2012/12/10/ciricara-ciri-ciri-jamur-yang-tak-layak-dikonsumsi/


0 comments:
Post a Comment